Selasa, 26 April 2016

Apakah aku salah?

0

Kita sama-sama diam, tidak pernah tersirat hingga ada percakapan rutin hingga larut malam. Namun, waktu demi waktu kita terus bertemu, bersapa, dan berkomunikasi. Komunikasi yang awalnya hanya untuk hal-hal yang penting, berubah menjadi komunikasi yang hangat lebih dari sekedar rekan.




Percakapan yang selalu kita hadirkan, tidak pernah sekalipun mengundang rasa bosan. Kita tidak pernah marah satu sama lain, melainkan kita selalu nasehat menasehati.


Keberuntungan apakah ini? Memiliki sahabat sepertimu. Kamu yang selalu baik terhadap semua orang kemudian dekat menjadi sahabatku, menjadikan orang-orang yang menyukaimu membenciku. Semua itu bukan masalah untuk kita. Kamu bijaksana, dan membuat aku mampu berlaku dewasa.


Seringkali aku termenung, salahkah aku? salahkah aku mencintaimu? Percakapan rutin kita  ternyata mengundang rasa yang berbeda. Namun tidak jarang aku mencoba menghilangkannya, karena rasa yang datang itu memang belum saatnya. Aku sangat takut kamu mengetahuinya sehingga kita menjadi tidak saling mengenal.


Menjadi bagian dari hidupmu memang impianku, namum memaksamu, merupakan keegoisanku. Menemanimu mulai hari ini yang bukan apa-apa, hingga kamu menjadi bertahta merupakan impianku. Namun setelah itu, kamulah yang berhak memilih dengan siapa kamu menikmati kesuksesanmu itu.

Selasa, 05 April 2016

Otak Kiri dan Otak Kanan

0

waah ada apa ini? pada ngeributin Otak Kiri lebih Dominan, pada ngeributin Otak kanan Lebih Dominan. jangan mikirin mana yang lebih Dominan, tapi fikirin yang penting kita punya otak. iya engga? :D 
jadi bersyukur ajaa, mau Otak kanan atau Otak kiri yang dominan, itu akan jadi ciri khas seseorang dalam melakukan aktivitasnya.
nih aku udah pernah nyoba tes otak di online, nih link nyaa, http://www.arealme.com/left-right-brain/id/ - silahkan dibukam dan di cek yaa, kamu termasuk bagian otak mana, keduanya sama sama bagus kok. aku juga udah pernah nyoba tes otak itu, dan ini diaa hasilnyaa *tarraaaaa

dan itu diaa hasilnyaa :D nah dari pada ribut ribut, yukk kita dengerin aja gimana penjelasan dari otak kanan dan kiri, ini diaa *cek this out *lets reading
Seseorang yang ‘hebat’ secara akademis, pada umumnya sangat kuat dalam logika, kata, daftar, angka, linieritas, analisis, dan sejenisnya. Menurut Tony Buzan (Use Your Head: 1993): hasil aktivitas otak kiri manusia.
Adapun otak kanan lebih berkaitan menangani irama, imajinasi, warna, angan-angan, kesadaran ruang, gambaran menyeluruh dan dimensi. Belakangan berkumandang anjuran, jangan hanya memanfaatkan otak kiri, otak kanan juga dong.
Konon, para ilmuwan hebat memanfaatkan otak kiri. Para seniman kuat di otak kanan. Mana tahu, Sampeyan hebat memanfaatkan otak kiri, canggih membedayakan otak kiri. Piawai menghitung fulus fasih berimajinasi. Mana tahu lho.
Setiap manusia memiliki kecenderungannya masing2 dalam penggunaan otak kanan atau otak kiri, baik sadar ataupun dibawah sadarnya. Hal ini bergantung pada banyak faktor yang mempengaruhinya sejak masih kecil bahkan sejak dalam kandungan. Kecenderungan berpikir dengan otak kanan ataupun kiri merupakan hasil dari suatu proses yang sangat panjang dan yang tak boleh kita lupakan adalah kecenderungan ini adalah suatu berkah ciptaan Allah, Sang Maha Pencipta.
Dikarenakan kedua kecenderungan berpikir ini, baik dengan otak kanan maupun dengan otak kiri merupakan ciptaan Allah, maka ada baiknya kita masing2 membuka diri untuk menyelami dan menghayati keperbedaan ini, dengan sikap yang positif.
Untuk memahami fungsi otak kita, saya coba uraikan sebagai berikut:
Otak kanan — KREATIF — Bentuk, Intuisi, Lagu &musik, Warna warni, Simbol, Gambar, Imajinasi, Menghayal
Otak kiri – ANALITIK — Bahasa verbal, Matematika, Logika, Angka2, Urutan2, Penilaian, Analisis, Linier

Otak Kanan
Menurut teori dominasi otak kanan dan otak kiri, sisi kanan otak berfungsi terbaik jika digunakan pada tugas yang ekspresif dan keratif. Beberapa kemampuan yang populer terkait dengan sisi kanan otak meliputi:
  • Mengenali wajah
  • Mengekspresikan emosi
  • Musik dan selera seni
  • Membaca emosi
  • Warna
  • Gambar dan imajinasi
  • Penyatuan
  • Intuisi
  • Kreativitas
  • Subyektifitas
  • Mengontrol tubuh bagian kanan
  • Bentuk 3 dimensi
Otak Kiri
Sisi kiri otak di anggap mahir dalam tugas yang melibatkan logika, bahasa dan berpikir analitis. Otak kiri sering digambarkan lebih baik dalam:

  • Obyektifitas
  • Bahasa
  • Logika
  • Berbicara
  • Menulis
  • Berpikir kritis
  • Ketrampilan Angka-angka
  • Matematika/ketrampilan ilmiah
  • Menganalisa
  • Penalaran
  • Mengontrol tubuh bagian kiri
  • Pertimbangan
Dari penjabaran diatas, kita dapat simpulkan betapa perbedaan “bahasa” diantara kedua sisi otak kita adalah tidak sama. Seorang yang memilih jurusan, profesi atau pekerjaan berdasarkan kemampuan otaknya dalam mencerna “bahasa” pikiran, tentunya telah terbiasa menggunakan bagian otaknya (kanan atau kiri) sehingga bagian tersebut lebih banyak berperan dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga adalah kurang tepat, bila serta merta seorang seniman musik dipaksakan bekerja untuk menghitung angka2, rumus2 dan analisa. Demikian juga sebaliknya, adalah kurang tepat bila serta merta seorang financial analisis dipaksakan bekerja untuk hal2 yang bebahasa symbol, imajinasi dan gambar abstrak.
Selayaknya kita menganggap kecenderungan ini bukan sebagai suatu kelemahan, tapi justru menjadi suatu kelebihan pada tiap individu. Kelebihan yang bila diolah dengan baik akan menghasilkan KEKUATAN dalam diri individu itu sendiri. .
Bayangkan bila kedua kekuatan ini dapat digunakan secara adil, seimbang dan harmonis dalam suatu frame kehidupan atau kemitraan, akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa, karena tentunya bisa saling mengisi dan saling melengkapi. Penyeimbangan antar kedua fungsi otak kanan dan kiri inilah yang akan memberikan kontribusi pemikiran yang lebih baik daripada pemikiran yang hanya condong pada satu sisi otak saja. Namun sebagai individu yang berbeda, tentunya kendala2 pemahaman “bahasa otak” akan sedikit mengalami adaptasi, dan hal ini dapat diatasi bila kedua pihak saling bertoleransi dan berpikiran positif.
Berikut ini tip atau cara mengetahui apakah anda cenderung menggunakan otak kiri atau otak kanan.
Rentangkan dua tangan anda keatas seperti ini :
Kemudian lakukan suatu gerakan hingga kedua tangan seperti dibawah ini:
Coba anda perhatikan jempol tangan kiri dan tangan anda berada dimanakah?
jempolve4
Jika “jempol tangan kiri” anda berada paling atas (dipuncak) maka selamat anda telah bertipe “otak kanan”
Sebaliknya jika “jempol tangan kanan” anda berada diatas (dipuncak) maka maka selamat anda telah bertipe “otak kiri”
Selamat mencoba!!
NAHH KLU YANG INI
PERCOBAAN KONFLIK OTAK KIRI DAN OTAK KANAN
dengan TEST WARNA
otak kiri dan otak kanan
Coba anda perhatikan tulisan-tulisan di atas yang menyatakan warna (Kuning, orange, biru, hitam, dan selanjutnya), kemudian sebutkanlahwarnanya bukan menyebutkan tulisannya. Otak kanan anda berusaha menyebutkan warnanya, tetapi otak kiri anda tetap membaca tulisannya ! Coba anda praktekkan, pasti anda akan terganggu oleh konflik otak kiri dan otak kanan anda
sumber: milis
ps: (updated)

Menurut teori ini, otak kanan bertanggung jawab secara acak, intuitif, holistik, menyatukan dan pemikiran subyektif. Sementara otak kiri berperan untuk berfikir logika, skuensial, rasional, analitis dan obyektif. Kebanyakan individu memiliki preferensi berbeda dalam menggunakan salah satu gaya berfikir ini. Jadi seseorang mungkin lebih cenderung menggunakan otak kiri dan yang lain mungkin cenderung ke otak kanan. Didasarkan pada bagaimana mereka menggunakan otak kanan dan otak kiri untuk memecahkan masalah.
Fungsi otak kanan dan otak kiri manusia pada prinsipnya merupakan satu kesatuan fungsi. Akan tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa, jika otak kiri sedang aktif, maka otak kanan akan lebih tenang, demikian pula seabaliknya. Otak kanan dan otak kiri juga sebenarnya bekerja saling mendukung, sebagaimana pentingnya fungsi memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Dengan demikian, tidak bisa dikatakan, otak kanan lebih bagus dari otak kiri ataupun sebaliknya. Walaupun pada sebagian orang terkadang lebih dominan untuk menggunakan area otak tertentu. Penggunaan dominasi area otak tertentu inilah yang kemungkinan membedakan minat dan bakat antar individu.
Berikut sifat-sifat orang yang dominan otak kiri dan kanan:


Dominan Otak KiriDominan Otak Kanan
Menggunakan logikaMenggunakan perasaan
Berorientasi detailBerorientasi secara keseluruhan
Melihat faktaMelihat imajinasi
Kata-kata dan bahasaSimbol dan gambaran
Hari ini dan masa laluHari ini dan masa depan
Matematika dan ilmu pengetahuanFilosofi dan religi
MengetahuiMemahami
MengetahuiMempercayai
MengakuiMengapresiasi
Mempersepsi urutan/polaMempersepsi secara spasial/ruang
Mengetahi nama objekMengetahui kegunaan objek
Berdasar pada realitaBerdasar pada fantasi
Menyusun strategiBerdasar pada apa yang terjadi
PraktisTerburu-buru/tidak sabar
Bermain amanMengambil resiko

Cara Berfikir Orang Dengan Menggunakan Otak Kiri dan Kanan
  1. Menggunakan otak kanan: Orang yang lebih dominan menggunakan otak kanan cenderung menggunakan kreativitas untuk memecahkan suatu masalah. Mereka lebih banyak mengendalikan intuisi dan lebih cepat menangkap gambaran keseluruhan situasi. Pada intinya, orang yang banyak menggunakan otak kanan tidak detail oriented.
  2. Menggunakan Otak kiri: Orang yang lebih dominan mengguanakan otak kiri lebih memilih alasan untuk segala sesuatu yang lain. Mereka menggunakan logika rasional untuk mengidentifikasi penyebab masalah dan kemudian berpikir tentang bagaimana cara mengatasinya. Pada intinya, orang yang berfikir menggunakan otak kiri adalah detail-oriented.

PUISI : Rencana Allah

0

Dalam hidup pasti  ada yang datang dan pergi. 

Memberi cinta atau menembus luka

Namun bukankah tuhan selalu punya rencana. 

Setelah hujan selalu ada pelangi , setelah luka pasti ada bahagia, setelah menunggu pasti akan ada yang datang

Semua  indah  pada waktunya

Jika kau mau menungu, berusaha, dan berdoa.


Kita bertemu bukan suatu kebetulan, kita bersama bukan juga suatu kebetulan, kita tertawa bahagia bersama bukan juga  merupakan suatu kebetulan. Tapi itu adalah takdir yang telah diciptakan oleh sang maha cipta sejak ribuan tahun lalu.

Bocah Kecil Penguasa Hujan

0

Bocah Kecil penguasa hujan, ya! Begitulah aku menyebutnya. Begitu terkagum kagum ketika aku melihatnya, berlarian kesana kemari ditengah hujan dengan sebilah payung berwarna abu, nian bahagianya dia, demi sebongkah receh ia dapatkan. Berlari lari dari mobi satu kemobil lain, dari orang satu keorang yang lain. Tapi sempat terlintas dibenakku, tujuan ia bukan hanya untuk itu, melainkan ada tujuan lain. 

Dengan rasa penasaran, aku menghampirinya dibawah anak tangga dengan diguyur hujan deras “dek? Ini lagi ujan deres, kamu malah lari larian bawa payung buat lindungin orang, tapi kamu sendiri keujanan, apa pula kamu ini” ucapku dengan nada bergurau. 
Dengan melanjutkan perkataan ku, aku bertanya padanya “kamu udah lama jadi ojek payung?” – “udah kak, tapi gatiap hari ujan kak” – “oiya yaah, akhir akhir ini jarang banget buat ujan, tapi Alhamdulillah nya hariini ujan deres ya” – “iya kak” – “oiya, kamu kalo ojek payung gini suka dikasih uang sama mereka mereka?” – “iya kak” – “ suka dapet berapa kalo sehari?’’ – “kalo dikasih sih yaa seikhlasnya, ada yang dua ribu, 5 ribu” – “ooh, waah lumayan yaah.. terus uang itu kamu apain? Buat sendiri, atau buat jajan, atau buat traktir temen?” – “dikasih ke orang tua ka, buat jajan juga sebagian” – “ooh, tapi gabuat traktir temen kan?’’ – “engga hehe”. 

Begitu pembicaraan selesai, pergilah dia untuk melanjutkan memboyong orang dengan payung abunya. Mungkin kukira ia kedinginan, tapi tak ada dalam wajahnya untuk memperlihatkan itu, ia melakukan itu dengan sebuah tawa bahagia, bahwa ia menyukai pekerjaan tersebut.

Nah, perkiraanku benar, ada tujuan lain dibalik itu, “demi Membahagiakan orangtua”. Mungkin selain itu, terdapat beberapa amalan dan nikmat yang mungkin ia tidak menyadarinya. Apa itu? 

Pertama, menikmati karunia Allah, dengan diturunkannya hujan, yang setelah sekian lama itu tidak turun ke bumi, itu suatu rezeki yang Dia berikan pada penduduk bumi. 

Dapat kita ambil contoh, Riau salah satunya, dengan kabut asap pekat yang mengganggu ketenangan manusia akibat ulah tangan manusia itu sendiri, dengan diturunkannya hujan, InsyaAllah, atas izin Allah, asap itu akan meredam, mungkin tidak cepat, tapi pasti “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al baqarah 164)

Kedua, bocah itu telah menolong orang lain, telah membantu orang lain, mengantar orang lain kemasjid dengan payung abunya. Kemasjid buat apa? Ibadah bukan? Nah, bocah itu telah mengantar orang lain menuju kebaikan tanpa ia sadari didalamnya. 

Ketiga, uang yang ia kumpulkan, ia gunakan untuk kedua orang tuanya, mungkin hasil ojek itu tidak besar, tapi mungkin itu dapat membuat orangtuanya bangga, walaupun pada kenyataannya pekerjaan itu bukan suatu pekerjaan yang “waw”, bukan suatu yang berbobot, yang mengharuskan ia memakai kemeja, menggunakan dasi, dengan diantar mobil mewah. 
Bukan, bukan, itu hanya suatu pekerjaan yang bermodalkan sebilah payung, semangat dan tekat, serta kebahagiaan. 

Perlu digaris bawahi kata “kebahagiaan”, you know what? Itu artinya dia InsyaAllah “ikhlas” dalam melaksanakan tugasnya. Dan itu hal terpenting yang harus diadakan dalam diri setiap manusia. Manusia tidak perlu mengumbar atas pahalanya, atas amal sholeh yang telah ia lakukan, ingin dipuji atau dilihat orang lain, apalagi sampe ujub untuk mendapat perhatian manusia. Astagfirullahal’adzim.. 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. 

Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (All baqarah 264) cukup ko dengan melakukan setiap amal perbuatan, cukup dari sini *nunjuk hati*. Ikhlas, ridha karena Allah ta’ala. Tenang aja weh, Allah maha melihat kok, Allah kaga pernah tidur, Allah tau apa yang ada dibumi dan dilangit, bahkan apa yang ada dihati manusia pun Dia tau. Wallahualam bissawab.

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya, dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al baqarah 271)


Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al baqarah 265)

Bertepuk Sebelah Tangan

0

Ada pepatah mengatakan: ‘jangan bertepuk sebelah tangan’ Sebab bertepuk sebelah tangan tidak akan menghasilkan bunyi tepukan. Sebuah pepatah yang menggambarkan cinta yang tiada berbalas. Mencintai, tapi tidak dicintai.

Pepatah itu hanya berlaku untuk cinta antara sesama manusia. Tidak akan pernah berlaku untuk seorang hamba dengan Tuhannya. Allah adalah Dzat yang Maha Mencintai. Sumber segala Cinta, yang tiada pernah memudar. Yang terus mencintai meskipun tidak dicintai oleh sebagian hamba-hambaNya. Yang CintaNya mengalir deras, tanpa ada yang bisa mengukurnya.

Karena CintaNya itulah alam semesta ini ada. Karena CintaNya itu pula alam semesta tertata dan terpelihara begitu rapinya. Karena Cinta itu pula manusia tercipta. Dan karena Cinta itu pula segalanya bakal kembali kepadaNya.
Cinta hanya bisa disambut dengan cinta. Barulah tercipta kebahagiaan. Jika Cinta hanya bertepuk sebelah tangan, ia menjadi tidak ada gunanya bagi kebersamaan. Sang Pemberi Cinta tetap berbahagia, karena Cinta memang tidak harus memiliki. Tetapi sayang, orang yang dicintai tidak menyadari. Maka, sebuah kebahagiaan tak terkira dalam kebersamaan, terlewatkan begitu saja.

Kebahagiaan Cinta, sesungguhnya, bukan dirasakan oleh orang yang dicintai, melainkan oleh orang yang mencintai. Jadi, berbahagialah orang yang mencintai. Dan rugi besarlah orang yang tidak bisa mencintai.

Karena itu, Kebahagiaan selalu bersama Allah sebab Dia adalah sumber Segala Cinta. Dia adalah sumber Segala Kebahagiaan. Begitulah, Sumber Cinta dengan sendirinya adalah Sumber Kebahagiaan.

Maka, kalau kita ingin berbahagia, 'Bercintalah' dengan Sumber Cinta dan Kebahagiaan itu. Bukan sekadar ingin dicintai, atau menuntut untuk dicintai, melainkan justru MencintaiNya. Mencintai adalah jalan menuju Kebahagiaan. Semakin Cinta Anda kepada Allah, semakin bahagialah Anda!

Allah membangun 'Kerajaan Kebahagiaan' di dalam 'Kerajaan Cinta'. Kebahagiaan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang menasbihkan dirinya sebagai Hamba Cinta. Bukan hamba kebencian. Bukan hamba dendam. Bukan hamba Keserakahan. Cinta menjadi sumber kebahagiaan yang tiada habisnya. Apa pun menjadi membahagiakan ketika disentuh oleh Cinta. Dan memunculkan derita ketika disentuh dendam, kebencian dan keserakahan. Anda bisa menciptakan kebahagiaan apa pun seperti yang Anda inginkan ketika Anda menjadi hamba Cinta.

Karena itu, orang-orang yang berada di dalam surga digambarkan bisa memperoleh kebahagiaan apa pun yang dia inginkan. Sebab, ia adalah hamba Cinta. Ia berada di dalam Kerajaan Cinta. Ia dinaungi oleh Sang Maha Mencintai. Itulah kebahagiaan yang tiada putus-putusnya. Tiada habis-habisnya. Ruang dan Waktu terus menaburkan aroma bahagia bagi orang yang sedang dimabuk Cinta...

QS. An Nuur (24) : 42
Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah lah kembali (semua makhluk).

Ali Imron (3) : 26
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS. Al Insaan (76) : 20
Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar

QS. Yaasiin (36) : S8
(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Menyayangi.

Tidak sayangkah kita melewatkan 'Cengkerama Cinta' itu? Tidak sayangkah kita, membiarkan Mahligai Kebahagiaan berlalu begitu saja? Hanya bertepuk sebelah tangan? Sama sekali bukan Allah yang rugi, karena Ia adalah sumber Cinta. Bahkan Dia adalah Cinta itu sendiri. Karena itu, Dia adalah sumber Kebahagiaan. Cinta selalu hadir bersama-sama dengan Kebahagiaan dan Kedamaian.

Namaku Izrail

0

Entah kenapa cerita ini, kisah ini ngebuat ana bergidik merinding bacanya, kisah ini ngebuat ana ternganga bacanya, ini mungkin kisah fiktif, tapi coba baca dulu deh, ini kisah WOW banget. sampe geleng-geleng ana bacanya. 

Izrail? siapa di sini yang tak mengenal nama itu? nama yang sangat popular dikalangan manusia, nama yang mengantarkan nyawa manusia kepada Rabb nya. nama yang mungkin dikalangan manusia menjadi suatu momok yang menakutkan. bahkan mungkin mereka tak ingin bertemu dengan nya. nama yang membuat manusia terpisah dari dunia dan akhirat. tapi, kau tak dapat mengelaknya ketika Dia datang menjemputmu. 
oke, langsung baca aja yaa ...

Namaku Izrail


"Wahai anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang, maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia men-datangimu sedang engkau dalam keadaan lengah"
(Nasihat Luqman kepada anaknya)

Tiba-tiba saja ia berdiri dihadapanku. Memperkenalkan diri entah dari mana. Terus terang, aku melongo ketika orang atau lebih tepatnya mahluk itu ada dihadapanku. Entah kenapa, aku tidak terlalu kaget. Hanya saja, memang muncul rasa heran dan takut. Tubuhku yang sedang berbaring setengah terangkat. Aku menatap bengong melihatnya berdiri di hadapanku. Meski rasa takut menyergapku, aku seakan-akan tidak merasa asing dengan sosok ini.

Kayanya pernah kenal, tapi dimana gitu. Dalam beberapa saat aku seperti pikun. Lupa. Tepatnya nggak tau apakah pernah bertemu dengannya atau tidak. Sepertinya aku mengalami dejavu, pikirku. Cukup lama ia memandangku dengan diam, setelah dia menyebutkan namanya begitu saja. Padahal aku nggak minta diperkenalkan. Boro-boro perkenalan, dia begitu saja mengada, makanya siapa diapun aku nggak ngeh. Izrail katanya. Siapa ya? Rasanya nama itu pernah kudengar dengan baik. Tapi aku lagi-lagi tidak mampu menggali memori dari otakku yang tiba-tiba menjadi beku. Ia nampaknya termasuk mahluk yang tak mau tau. Tepatnya super cuek. Apakah aku mau atau tidak, nampaknya ia memang tak peduli. Bilamana ia mau, ia akan memperkenalkan diri. Bila tidak, ya sudah lewat begitu saja. Tak peduli orang yang disapanya mau atau tidak. Apakah yang di datanginya jantungan atau tidak. Baginya itu nampaknya tidak menjadi soal benar.

Apalagi kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Seperti menyergap dari ketiadaan, muncul begitu saja. Bagi yang penakut, mungkin kemunculannya bisa membuat semaput. Dia seperti hantu. Untungnya aku termasuk bukan manusia yang kagetan. Sehingga kemunculannya yang tiba-tiba itu tidak terlalu membuatku semaput. Tapi yang jelas memang otakku jadi beku. Seperti sekarang ini. Memandang dengan bodoh kesosok yang luar biasa ganteng ini.

Kupikir-pikir, memang aku belum pernah melihat wajah seperti dia ini. Wajahnya lebih mirip manekin yang dipajang ditoko-toko ketimbang manusia. Halus, berkulit bersih, bahkan seperti menimbulkan pendar sinar. Meskipun, kebersihan kulitnya agak sedikit tidak lazim dengan warna bersih yang memerah dadu seperti pipi bayi itu. Dia senyam-senyum dikulum, seperti seorang teman lama yang sedang menggoda. Wah, pikirku, ni orang kalau ikut kontes Indonesian Idol atau AFI barangkali langsung menang, yang lainnya langsung bertumbangan.

"Sudah tau siapa aku?", lanjutnya memecahkan kebingunganku."Eh..emmmm yyyaa...siapa ya", dengan sedikit gemetaran dan tergagap-gagap aku menjadi grogi, tapi lagi-lagi aku masih belum ngeh siapa dia, padahal dia sudah menyebutkan namanya. Nama itu memang terdengar tidak asing. Cuma, aku lagi-lagi lupa dimana pernah mendengar nama itu.

Dia tersenyum simpul. Swear, senyumnya termasuk kategori senyum manis bagi makhluk berjenis kelamin laki-laki (terus terang saja gender ini perlu saya buat dengan font italyc karena saya sendiri bingung ini orang laki-laki atau perempuan).

Kemudian dengan perlahan ia berkata" Aku diminta menjemputmu..."."Siapa?", tanyaku masih setengah bingung.
"Dia...", katanya pendek.
"Dia siapa ya?", tanyaku lagi, otakku masih beku, tak bisa menduga dan tak tahu dengan yang ia maksud."Kkkamu sendiri siapa?", tanyaku dengan sedikit gagap tetapi lebih mantap.

Keberanianku muncul begitu saja. Nampaknya, ia tidak kaget dengan reaksiku yang nampaknya masih belum begitu jelas. Aku sendiri masih mencoba mengingat-ingat. Tapi, rasanya memang sel-sel kelabu otakku jadi tumpul tak bisa berpikir. Entah kenapa, kemampuan berpikirku jadi mandeg. Daya ingatku seperti berputar-putar tak menentu, tak bisa mengatur alur logis yang benar. Melompat-lompat dan terputus-putus begitu saja seperti komputer yang perangkat lunaknya error karena kerusakan prosesornya. Kira-kira pernah kenal dimana dengan sosok aneh ini. Tanpa ba-bi-bu lagi nongol dan langsung memperkenalkan diri. Kucoba mengingat-ingat sekiranya aku pernah bertemu dengannya. Disuatu tempat, di suatu waktu.

Disela-sela kepikunannku, aku mencoba mengingat-ingat. Apakah teman sekolahku dulu pikirku. Ah, kelihatannya bukan. Tapi tetap tak bisa kuingat, siapakah pemilik sosok ganjil dihadapanku ini. Lagi pula kami masih sering kumpul-kumpul satu sama lain, meskipun sudah hampir 10 tahun angkatan kami habis alias pada lulus dari bangku kuliah. Ah, nampaknya bukan. Pelan-pelan kuhimpun daya ingatku, sedikit demi sedikit aku merasakan otakku melumer. Tak ada dari temanku yang penampilannya mirip dia ini. Meskipun dari lain jurusan, aku masih ingat satu persatu beberapa temanku semasa kuliah dulu. Frame demi frame aku mencoba memutar kembali wajah-wajah temanku. Si Bambang yang pernah dipenjara dulu karena aksi bakar ban di kampus. Atau si Nirwan yang jadi budayawan. Walaupun aku cuma satu dua kali ketemu dengan dia toh aku masih mengingat wajahnya. Bahkan beberapa teman satu kampus yang cuma kenal muka pun aku masih rada-rada ingat. Lha yang ada didepanku ini benar-benar asing banget. Walaupun samar-samar wajah itu seperti familiar dengan ku. Wajah sesosok wanita melintas sekilas, Ah tapi bukan dia, bukan dia, dia sudah lama pergi. Aku tepiskan bayangan yang melintas dari masa lalu itu. Entah kapan ketemunya akupun tidak tau. Tapi memang ada satu wajah yang sempat melintas dikepalaku, tapi tidak mungkin dia, soalnya dia memang cewek. Tapi, yah yang berdiri di hadapanku ini memang susah kujelaskan apakah cewek atau cowok. Ahhh, mungkin kawan se SMA dulu pikirku. Mencoba tidak menyerah, untuk mengingat dia yang tiba-tiba berdiri didepanku. Ingatanku pun melayang ke SMA dulu untuk mencari-cari dan mencocokkan siapa gerakan teman SMA yang mirip-mirip dia ini. Lagi-lagi aku tidak menemukan sesorang pun yang mirip dia. Kemudian kujelajahi kenangan SMP dan sekolah dasar.

Blank...Benar-benar blank nih pikirku, persis komputer yang tidak ada BIOS-nya. Siapa dia ini ya. Aku membatin, sambil menatap sosoknya. Mereka-reka, mencoba mengingat dan menggali dari sel-sel kelabu diotakku. Uhh..., rasanya...nggak ada ingatan sama sekali tentang sosok yang satu ini.

"Ngomong-ngomong sebenarnya kamu ini siapa...", kegugupan dan kebengonganku sudah hampir lenyap. Ganti keingintahuanku muncul tentang dia sendiri.
Sejenak ia menatapku lekat-lekat, kemudian "Ehm..aku sebenarnya pernah kamu kenal duluuuuu sekali". Ia malah menjadi sedikit grogi. Ia mencoba memberi penekanan pada kata dulu. Jadinya terdengar sedikit aneh. Dan terus terang, senyum dikulumnya itu membuat beberapa bulu-bulu halus ditekukku mulai meremang. "Dddulu kapan yyya?" lanjutku setengah gemetar menuntaskan keingintahuanku.

"Ya dulu, sewaktu kamu baru mau disinari oleh Dia". Ha....apa maksudnya "disinari". Disinari apaan ya. (Sepotong ayat tiba-tiba melintas, membuka suatu kenangan asosiatif masa yang telah lama sekali berlalu, Alif Laam Mim Raa, (QS 13:1).
Lagi pula, kok ucapannya sangat takzim sewaktu ia ucapkan "Dia". Bahkan setengah takut-takut.
"Aku diminta segera menjemputmu", katanya sedikit lebih takzim kepadaku.
"Haaa". Aku melongo antara bingung, heran, takut, dan takjub menjadi satu.


Namanya Izrail

"Ya Allah", ujarku setengah tak percaya. "Engkau...engkau... Izrail malaikat?", tanyaku.
Ia mengangguk. Baru kusadari ia yang berdiri di hadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan bisa kubilang bersinar. Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang yang ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya mirip kulit bayilah. Ya bulu, sama sekali tidak ada bulu dikulitnya. Wajahnya ganteng, bahkan nyaris cantik. Mungkin kenyal-kenyal dikit kalau dipegang-pegang seperti bunyi iklan sabun mandi "Dove", pikirku. Aku yakin, ia bisa menjadi Casanova nomor wahid kalau ia mau. Atau kalau mau jadi iklan sabun mandi, mungkin cocok untuk sabun mandi apapun. Dalam arti sabun mandi kecantikan atau kegantengan. Soalnya memang sampai saat ini, kalau saja ia tidak bersuara, sulit sekali membedakan antara laki-laki atau wanita.

Rambutnya teratur rapi tidak panjang dan tidak terlalu pendek, lurus tergerai. Sedang-sedang saja, tidak seperti orang yang habis bercukur maupun tidak bercukur lama. Malah nampaknya tidak pernah ditumbuhi kumis. Alisnya nyaris bertemu diatas hidungnya yang bangir. Dengan sorot mata yang lembut namun dingin. Bibirnya seolah terus-menerus tersenyum simpul, setengah meledek melihat kebingungan dan sekarang kekagetanku. Bahkan, sebenarnya lebih mirip bibir joker musuh bebuyutannya tokoh komik Batman dan Robin atau salah satu bintang film yang menjadi ikon sabun mandi terkenal. Walah..., senyumnya memang mirip Tamara Blezinky.

Tidak ada yang aneh sebenarnya kalau saja orang tidak berada dalam jarak dekat. Aku yang cuma beberapa puluh senti darinya bisa melihat keganjilan sosok yang jangkung dan tampan ini. Bau harum yang tak pernah kucium dari bunga atau pewangi manapun dihirup hidungku. Rasanya bau harum, manis, dan menenangkan. Kok ya, si Izrail ini pake minyak wangi darimana pikirku. Bisa membuat aroma terapi seperti itu. Mungkin efek wewangian ini juga yang menenangkan diriku, Entahlah, aku sendiri masing dipengaruhi kebengongan dan kebingungan.

Aku masih membanding-bandingkan sosoknya dengan beberapa public figure yang sering kulihat di bioskop dan televisi. Seingatku tidak ada peragawan ataupun bintang film yang mirip dengan dia ini. Leonardo Di Caprio yang tampan imut-imut pun tidak seperti dia, atau Pau Min Che yang aktor F4 pun jauh banget. Entah suku apa si Izrail ini. Dari melongo, kaget, bingung sekarang ada yang merambat pelan-pelan disekujur tubuhku. Bulu-bulu kudukku berdiri serentak, meremang diantara keringatku yang mulai merembes dan terasa dingin disekujur tubuhku. Aku mendadak disergap rasa takut amat sangat.

Namun itu tak berlangsung lama. Entah darimana datangnya, perasaanku yang campur aduk itu menemukan titik keseimbangannya manakala mencermati sosok yang berdiri dihadapanku ini. Wah, memang efek wewangian ini yang membuatku tenang pikirku. Tubuhku sudah kembali ke posisi rebahan di pembaringan. Tanpa daya. Kuamati lagi sosok Izrail yang ada di hadapanku. Tepatnya bukan dihadapanku. Tapi diujung ranjangku.

Ya, saat itu aku sebenarnya lagi terbaring lemas dipembaringanku. Bukan sakit atau pun meriang. Cuma seperti kurang gairah. Waktu itu sudah menjelang tengah malam. Jadi sebenarnya aku sudah bersiap-siap mau rebahan untuk tidur setelah membolak-balik beberapa lembar surat dari Al Qur'an versi H.B. Jassin yang diberi judul "Bacaan Mulia". Namun kedatangannya yang tiba-tiba membuyarkan kantukku. Tak ada yang bisa kukatakan saat itu. Pelan-pelan, karena kulihat ia juga cuma berdiri disitu, aku mulai mencoba menenangkan diri. Menatapnya dengan tolol. Lalu kuberanikan diri membuka dialog lagi setelah beberapa detik kebisuan melanda kami berdua. Aku mulai menyadari datangnya sesuatu.

"Sudah waktunyakah aku?", tanyaku pelan. Sangat pelan sekali. Kupikir ia tak mendengar ucapanku. "Ya, sudah saatnya menghadap Dia", katanya. Beberapa jenak aku pun cuma bisa menatapnya lagi. Tanpa komentar dan rasa apapun. Hambar. Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja aku nyeletuk tenang. Lagi-lagi, kurasakan ketenanganku karena pengaruh wewangiannya."Boleh aku meminta sesuatu sebelum engkau mengambilku...", harapku. Ia tidak kelihatan bimbang, malah sepertinya sudah tau kalau aku akan sedikit rewel. Ia cuma mengangguk. Lalu, entah ide darimana, lidahku fasih bertanya. "Ceritakan tentang kamu...".
Hikayat Izrail

Begitu saja. Ketika Ia Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, maka aku mengada seperti yang lainnya dari jenisku. Tercipta begitu saja dari al-Haba dan Nur Muhammad, berkas-berkas debu dan cahaya yang memanifestasikan Kun Fa Yakuun. Aku adalah satu diantara yang tak terhitung, yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan Kun Fa Yakuun. Aku adalah bagian dari Kehendak dan Kemahakuasaan-Nya. Ada milyaran proses yang menyertai Kuasa-Nya. Sejumlah itulah kami ada. Baik yang nyata maupun yang kasat mata. Baik yang terasa maupun tidak terasa. Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.

Masing-masing dari kami mempunyai tugas-tugas yang spesifik. Aku adalah salah satunya yang bertugas setiap saat, bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dikembalikan kepadaNya. Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhan-Nya, maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu, kendati aku selalu mengikuti arus Sang Waktu, seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut. Jadi pendeknya aku tak pernah mati, sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendak-Nya. Atau makhluk semacam itulah; Yang bertasbih tanpa kenal lelah, tak kenal waktu ataupun pengertian-pengertian relativistik seperti yang dinisbahkan kepada kaummu.

Tugasku ya seperti yang kamu rasakan ini, mengembalikan serpihan-serpihan cahaya kembali ke asalnya, ke awal mula penyaksian-Nya, ketika kalian bersaksi "Ya, Kami bersaksi!" . Aku biasanya cuma sekedar menerima catatan dari Lauh Mahfuzh, siapa-siapa yang harus kujemput saat itu. Hanya saja, karena aku tak pernah mengenal waktu, aku bisa berada dimana saja, kapan saja, tapi bukan Coca Cola lho.

O ya, ngomong-nomong soal debu & cahaya. Memang aku terbuat dari serpihan-serpihan debu & cahaya yang menjaga proses Kun Fa yakuun. Sebenarnya, aku dan yang lainnya ada karena Dia mempunyai Kehendak dan Keinginan Yang Tak Terbantahkan; Dia ada karena Kekekalan diri-Nya, kemandirian-Nya, sehingga bagi selain-Nya, maka Dia adalah Perbendaharaan Tersembunyi.

Aku ada, makhluk lainnya juga ada, semata-mata karena limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga ketika Dia mendeklarasikan Kekekalan-Nya dan Kemandirian-Nya yang Absolut maka Dia berkata:"Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.

Dia ucapkan Basmalah sebagai Rahmat dan Kasih Sayang yang Dia limpahkan, sebagai bagian dari Perbendaharaan-Nya yang tak akan ternilai oleh semua makhluk-Nya, tak akan terbalaskan kecuali oleh rahmat dan hidayah-Nya sendiri. Maka, dalam pemeliharaan Asma Ar-Rahmaan dan ar-Rahiim, Dia firmankan kehendak-Nya "Jadilah!" dan muncullah cahaya kemegahan-Nya sebagai Nur Muhammad, sebagai citra awal mula-Nya yang sempurna; kemudian aku mengetahui bahwa melaluinya aku akan mengenal-Nya.Dalam pusaran wawu, yang berputar melawan detak Sang Waktu, Nur Muhammad adalah cahaya-Nya yang tidak tercitrakan di alam nyata; kecuali bagi mereka yang memiliki qolbu Mukminin dan mereka yang menempatkan dirinya sebagai bagian darinya. Ketika Nur Muhammad menyinari zarah tanpa massa, yang kelak ditakdirkan menjadi al-Haba, maka dalam kuatnya pusaran wawu, Thaasin adalah firman-Nya yang memaujudkan kekuasaan-Nya, terciptalah minyak zaitun yang diberkahi, yang kilau kemilaunya mampu menerangi, kendati tanpa disentuh api.

Simetri Kegaiban Mutlak-Nya pecah mandiri karena kehendak-Nya semata; Maka dari Kegaiban Mutlak-Nya, melimpah dengan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya, al-Iradah-Nya goncangkan kegaiban sehingga gelombang al-Qudrah-Nya maujud mencapai batas-batas untuk segera munculkan al-Haba sebagai debu awal mula dan semburat cahaya Nur Muhammad meneranginya, hingga "Jadilah!" lelehan minyak zaitun itu seperti minyak tak tembus cahaya, lantas kehendak-Nya terkonfirmasikan sebagai plasma awal mula yang meledak-ledak dengan sendirinya, ciptakan gelombang Dentuman Awal Mula (Big-Bang), yang lontarkan al-Haba sebagai debu-debu materi pemula, yang luaskan ruang awal-mula dalam ketakberhinggaan Sang Waktu yang mengada menjadi fondasi alam nyata; darinya muncul salah satu kaumku yang mampu menjangkau setiap sudut-sudut semesta; membangun superspace awal mula; Dari Nur Muhammad, maujud salah satu kaumku mengikat semua maujud al-Haba menjadi semua makhluk, baik sendiri-sendiri sebagai gelembung-gelembung kuantum, maupun sintesa dari banyak zarah menjadi citarasa-citarasa , inti-inti, atom-atom, molekul-molekul, sel-sel, jaringan-jaringan, organ-organ, obyek-obyek, menjadi galaksi-galaksi, menjadi bintang-bintang, menjadi planet-planet, batuan, pegunungan, lautan, tumbuhan, binatang, manusia, dan menjadi dirimu.

Kaum mu, tercipta dari proses setelah milyaran tahun Kun Fa Yakuun berjalan. Itulah tanah lempung dari seluruh penjuru bumi, yang pernah kuambil dulu. Lantas kemudian Dia tiupkan Ruh dari cahaya-Nya. Dia berfirman ketika itu,
Alif Laam Ra, (Qs 2:1)
Alif Laam Mim Ra (Qs 13:1)
Cahayamu Dia ciptakan dengan penuh rahmat, kasih sayang dan kemuliaan-Nya. Maka "Jadilah!" kaummu yang mengemban semua amanat kesempurnaan citra-Nya; Amanat yang tak sanggup diemban kaumku, amanat yang tak sanggup diemban oleh semua makhluk kecuali kaummu. Adam yang diciptakan sebagai manusia sempurna pertama, adalah moyangmu, yang memahami asmaa-a-kullahaa, yang menjadi khalifah pertama mengemban amanat itu.

Kamu mungkin heran, kalau aku sendiri sebenarnya mahluk yang sangat tak kasat mata. Serpihan al-Haba dan Nur Muhammad adalah bahan bakuku, yang terhalus ciptakan diriku. Disaat tertentu kaumku jadi sangat nyata dan bisa berbentuk apa saja. Persis seperti cahaya yang memantul atau bayang-bayang yang timbul dari setiap makhluk dibawah cahaya. Karena aku dekat dengan esensi dirimu, maka penampakkanku sebenarnya sangat tergantung pada apapun yang menggerakkan tindakanmu, motivasimu, dan niat-niatmu. Bagi kaum sejenis ku, bentuk tak berarti apa-apa.

Selama milyaran tahun, Dia telah menetapkan masing-masing dari kami dengan urusan-urusan yang spesifik. Dia telah berfirman, Thaahaa (QS 20:1) Untuk menyingkapkan segala sesuatu, dari Asma-asma-Nya yang menjadi ketentuannya. Yang kelak engkau kenal sebagai, Alif, Ba, Jim, Dal (ABJAD) 1,2,3,4 (desimal) 10101010....(biner)Kami adalah kaum spesialis, dengan perintah-perintah-Nya, yang tak bisa kami bantah. Kami menyertai setiap gerak-gerik segala makhluk selain kaum kami. Karena tugas kami memang begitu. Kami awasi segala perilaku dan tindak tanduk kaummu, kesesatanmu, kemuliaan-mu. Kami bukan memata-matai, tetapi sekedar mencatat atau tugas-tugas khusus lainnya.

Semuanya kami catat sesuai dengan yang kami ketahui. Tapi lebih tepatnya menjadi saksi atas proses kesempurnaanmu, dengan rahmat, anugerah, kasih sayang, hikmah, keadilan dan kebijaksaan-Nya. Dia telah berfirman dengan kelembutan sebelum semuanya ditampilkan dengan Basmalah, Kaf ha ya Ain Shaad (Qs 19:1) Kelembutan itu adalah "yatalaththaf" (Qs 18:19) yang memunculkan Rahmat dan Kasih Sayangnya ketika Kun fa Yakuun (Qs 36:82) dicetuskan sebagai perintah penciptaan dengan ketentuan yang pasti terjadi (QS 69:1).

Tugas yang kuemban entah sampai kapan, aku sendiri tidak pernah diberi tahu. Seperti aku misalnya. Tugasku sangat spesifik untuk mengembalikan ruh segala mahluk kembali kepada-Nya. Setelah itu, ya sudah, petugas yang lain dari jenisku akan meneruskan proses itu. Begitu saja setiap saat dari waktu ke waktu. Monoton memang. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja menjalankan titah-Nya itu. Bagiku menjalankan perintah-Nya bukan sekedar tugas atau perintah. Tapi menggairahkan unsur-unsur pembentukanku. Entah sudah berapa banyak aku mengembalikan ruh setiap mahluk di semesta ini. Dari kaum apa saja, dari ras apa saja. Yang baik-baik ataupun yang durhaka. Yang sedang sekarat ataupun yang sehat-sehat saja. Pokoknya, yang berdiam disetiap sudut semesta, yang mengikuti proses sejak Kun Fa yakuun difirmankan.

Aku sendiri, tentu saja menjadi bagian dari proses itu. Tapi karena kuasa-Nya, tugas kami memang cuma menjaga agar proses itu berjalan seperti yang Ia Kehendaki. Kehendak-Nya adalah Kemutlakkan-Nya. Maka kaum kami seringkali merupakan bagian dari apa yang disebut sunnatullah. Aturan dan ketetapan-ketetapan yang menyertai kun fa yakuun, baik yang pasti atau tidak pasti.

Kenapa Aku? Kenapa aku yang ditugasi begitu? Ini ada sejarahnya. Kan tadi sudah kukatakan, bahwa aku dulu pernah mengambil debu dari bumi. Ketika Dia hendak menciptakan Adam, moyangmu itu, Dia mengutus satu malaikat yang sebenarnya tugasnya memikul 'Arsy untuk membawa debu dari bumi.

Ketika dia ngotot ingin mengambil debu dari bumi, Bumi berkata "Aku memintamu demi Zat Yang telah mengutusnya agar engkau tidak mengambil apa pun dariku sekarang yang neraka memiliki bagian darinya". Malaikat pemikul Arsy terkejut, maka dia pun batal mengambil debu bumi.

Ketika ia melaporkan kepada-Nya, Dia berfirman "Apa yang mencegahmu untuk membawa apa yang telah aku perintahkan kepadamu?". Dia menjawab, "Bumi telah meminta kepadaku demi keagungan-Mu, sehingga aku merasa berat untuk menolak sesuatu yang meminta demi Keagungan-Mu". Maka Allah kemudian mengutus malaikat lainnya kepada bumi, tetapi bumi mengatakan alasan yang persis sama seperti sebelumnya.

Demikian sampai entah berapa milyar tahun dalam ukuranmu sampai Allah mengutus semuanya. Akhirnya Allah mengutusku untuk mengambil debu. Bumi pun mengatakan seperti sebelumnya. Tapi, sudah menjadi kehendak-Nya kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan debu dan tanah liat akan ditugaskan kepadaku. Aku berkata kepada bumi,"Sesungguhnya Dia yang mengutusku lebih berhak untuk ditaati daripada kamu". Bumipun bungkam seribu bahasa dan pasrah atas kehendak-Nya. Akupun mengambil dari permukaan bumi seluruh tanah yang baik dan buruk, semua unsur yang ada di Bumi yang mengandung Carbon, Hidrogen dan Oksigen, dan membawanya kepada-Nya. Lalu Dia mengucurkan air surga kekumpulan debu bumi itu sehingga menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk yaitu minthiin (Qs 23:12), dan darinya Ia menciptakan Adam." Itulah sebabnya kenapa aku ditugaskan untuk mengambil ruh manusia dan mengembalikannya ke Yang Berhak Menentukan Nasib.

Aku tak mengenal belas kasihan. Dulu, aku pernah berbelas kasih kepada manusia yang hendak kucabut nyawanya. Namun, kehendak Allah mengandung rahasia-rahasia yang tersembunyi, sehingga akupun malu melakukan penentangan Kehendak-Nya. Suatu hari, aku diperintahkan mencabut nyawa seorang perempuan di padang pasir yang panas. Ketika kudatangi, dia baru saja melahirkan anak laki-laki. Aku menaruh belas kasihan kepada perempuan itu karena keterpencilannya, dan juga kasihan terhadap anak laki-laki perempuan itu karena masih bayi namun tidak terawat di tengah padang pasir yang buas. Namun fatal akibatnya, karena anak kecil dimana aku menaruh belas kasih itu ternyata adalah penguasa lalim dan tiran yang tak ada duanya di bumi. Dari situ, aku memahami bahwa "Mahasuci Dia yang memperlihatkan kebaikan kepada yang dikehendaki-Nya!".

Ketika aku berbelas kasihan, maka aku tidak mencabut nyawa bayi itu, tapi aku kemudian menyesalinya karena apa yang kuanggap kebaikan ternyata benih kejahatan yang kubiarkan tumbuh karena aku salah menafsirkan kehendak Tuhan.

Izrail terdiam sejenak. Agaknya ia masih mengenang apa yang dilakukannya dulu. Kemudian ia melanjutkan. Jangan tanya siapakah ibu bapakku, seperti layaknya makhluk lainnya yang beribu bapak. Katakan saja, aku manifestasi Kehendak Yang Kuasa. Manifestasi al-Qudrah setelah Ia memfirmankan "kun!".

Seperti saya bilang tadi, kaum sejenisku tercipta begitu saja karena Ia Berkehendak. Kalau kamu bertanya berapakah banyak tugas yang telah kulakukan? Aku sendiri tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Karena pengetahuan tentang itu tidak kami miliki.

Ada yang lain dari jenisku yang melakukan hitung menghitung. Itu bukan tugasku. Aku jadinya memang mahluk yang sangat spesifik. Sebenarnya kalau soal spesialisasi begini, kami tidak ada apa-apanya dibanding kalian manusia. Soalnya, hanya kaum kalianlah yang diberi kehendak bebas untuk berpikir, memilah dan memilih dengan bertanggung jawab. Kaum kami tak sanggup memikulnya, karena kami telah melihat dampak-dampaknya yang mengerikan.Dia pun menghendaki kami bertasbih dan sujud dihadapan Nenek Moyangmu. Pernah kami protes begini-begitu sewaktu kami diberitahu bahwa Dia Berkehendak menciptakan mahluk manusia. Namun, Dia Maha Mengetahui atas apapun yang terjadi sejak Awal dan Akhir.

Kami sebenarnya terikat Sang Waktu seperti kaummu. Sang Waktu adalah kaum sejenisku. Ialah yang memungkinkan perubahan. Kami sebenarnya pun tau kalau manusia akan selalu begini begitu di semesta yang Dia ciptakan dengan rahmat dan kasih Sayang-Nya yang tak terbalaskan. Yang tidak kami miliki ada pada makhluk yang satu ini. Keinginan, akal, dan atribut lain yang kami tau bakal jadi masalah nanti. Kami memang sedikit iri, sampai Dia menunjukkan kuasaNya atas semua makhluk manusia. Kalian sebenarnya lebih tahu dari kami atas segala mahluk yang pernah Ia ciptakan.

Kami pun lalu sujud dihadapan nenek moyangmu, Adam. Cuma satu makhluk yang tak mau sujud. Ialah Iblis yang kemudian akan selalu mendampingi kalian dalam proses Kun Fa yakuun. Maka, iapun terkutuk. Allah berfirman :
"Keluarlah engkau dari padanya, karena sesungguhnya engkau terkutuk, dan sesungguhnya laknat atasmu sampai hari kemudian."

Begitulah, Iblis pun menjadi musuh abadimu dan musuhmu yang sejati. Ia menyusup di kumpulan-kumpulan debu al-Haba yang sekarang maujud menjadi semua bentuk, karena keinginan, karena hasrat, karena syahwat, karena ketamakan, kerakusan, kesombongan, dan penyakit-penyakit Sang Iblis lainnya. Aku tak kuasa mengusirnya dari sekitarmu, soalnya memang bukan tugasku. Kan tadi sudah kubilang kaumku adalah kaum spesialis. Begitulah aku.
Izrail mengakhiri kisahnya. Aku terdiam. Kemudian, karena tugas-tugasnya itu aku bertanya tentang cara dia mengakhiri kehidupan seseorang, cara dia mengambil ruh makhluk bernyawa. "Proses pengambilan ruh? ", dia mengangkat alisnya.

Sebenarnya bagaimana caraku mengambil ruhmu itu tergantung dari banyak hal. Dan semuanya ada didiri kamu sendiri. Ada yang mungkin menurutmu kelihatan mudah, ada juga yang sulit. Ada yang berkesan ada juga yang tidak menyimpan kesan apa-apa. Aku sendiri tidak tau kenapa bisa tidak berkesan sama sekali. Ia maunya begitu kok.

Cara mengambilnya pun macam-macam. Kan sudah ku bilang kalau bahan dasarku adalah cahaya. Penampakanku sebenarnya tergantung dari kamu sendiri. Ada banyak hal yang mempengaruhi penampakan ku. Tapi, yang utama memang segala gerak gerik dan tingkah laku yang pernah kamu lakukan di semesta ini, akan mempengaruhi wujud penampakkanku. Demikian juga cara mengambil ruh kehidupan yang bersemayam di wujud fisikmu, tergantung pada kebandelan dan kepatuhanmu. Memang kaum mu ini termasuk makhluk yang diistimewakan-Nya. Sangat disayang, sangat sempurna dibanding makhluk lainnya. Hanya, seringkali kaum kamu itu ngeyel.

Kalau tidak, malah bisa dibilang pin-pinbo alias pintar pintar bodoh. Dan yang paling menjengkelkan, kalau kaum kamu ini sudah dikuasai oleh penyakitnya Sang Iblis yang terusir. Walah, susahnya minta ampun. Padahal pengambilan ini sebenarnya proses yang biasa-biasa saja. Kamu sendiri kan tahu tiap saat ada saja yang kuambil. Dengan baik-baik atau dengan paksa, dengan sendiri-sendiri atau berkelompok, dengan senang atau dengan ketakutan. Memang sih aku sering datang tiba-tiba. Maklum namanya cuma makhluk yang cuma menjalankan perintah. Aku sendiri tidak tahu kapan harus segera menemuimu. Itu rahasia Dia Yang Penuh Rahasia. Kaum kami pun, yang bisa dibilang 100 % patuh dan selalu beribadah kepada-Nya, tak tau apa-apa kalau menyangkut urusan takdir makhluk. Sungguh, tugas kaum kami cuma memenuhi perintah Dia. Memang sih seringkali ada delay sewaktu kami menjalankan tugas. Biasanya kalau ada delay, kehadiran kami akan didahului aura yang mempengaruhi kelakukan mahluk yang akan kami ambil. Mungkin kamu sendiri tidak menyadari hal itu. Tapi begitulah. Kaum kamu sebenarnya ada di dalam genggaman-Nya dengan ketat. Ada yang digenggam erat-erat. Ada yang direnggangkan, sampai kesombongan menyergapnya. Dan mengira, dirinya sangat hebat dan berkuasa, sampai-sampai dia pun menafikan peran Tuhannya. Padahal, semua malapetaka, semua kehinaan, semua hal yang buruk-buruk dapat terhindar dari dia semata-mata karena Dia sangat menyayanginya.

Akhirnya, kesombongan itu menjerumuskan dirinya dalam banyak kesesatan dan kebodohan. Benar, sombong, bodoh dan sesat itu sebenarnya hampir beriringan, karena itulah karakter Azazil, sang Iblis yang mengira dirinya pantas disujudi karena ilusi kesuciannya. Banyak kaummu yang terkena ilusi palsu itu. Maka berhati-hatilah, sebenarnya semua manusia mempunyai peluang untuk tergelincir ke dalam perangkap tipu daya Sang Durjana yang dikutuk oleh-Nya. Kami yang mempunyai tugas mengambil sebenarnya cuma satu. Berhubung kami tidak terikat dalam proses yang kalian jalani, tidak oleh ruang maupun waktu, sepintas kami kelihatan ada banyak. Memang begitulah kejadiannya. Dalam satu waktu ukuran kalian, kami bisa serentak mengambil banyak ruh dengan berbagai cara, dimana saja.

Sudah tak terbilang, berapa milyar ruh yang kuputuskan dari semua harapan dan impiannya, dari semua angan-angan dan cita-citanya, dari semua keasyikannya, dari semua kesenangannya, hartanya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, rumah-rumahnya, mobil-mobilnya, perusahaan-perusahaannya, jabatan-jabatannya, pacar-pacar gelapnya, dan lain-lainnya.

Tapi, itu tak cukup untuk mengingatkan manusia. Hingga iapun seperti keledai dipenggilingan masa, terperosok di lubang yang sama dari masa ke masa.Kelalaian manusia dari mengingat kedatanganku nampaknya sudah menjadi penyakit zaman. Dari waktu ke waktu melakukan tugasku, kelalaian mereka terhadap kedatanganku menimbulkan rasa sombong dan berpanjang angan-angan. Entah sudah berapa banyak aku menghanguskan "business plan" mereka. Kaummu semestinya mengingat syair yang dibuat oleh seorang arif ini,

Kita lalai dari mati di pagi dan sore hari
Seperti penghuni dunia yang lalai
Dari kematian di sore dan pagi hari
Seseorang berjalan di suatu hari seperti tubuh tanpa ruh
Didepan mataku, setiap yang hidup adalah isyarat
kematianMerintihlah jiwamu wahai orang miskin, bila engkau
merintihSungguh, kau akan mati meski kau berumur seperti
Nuh.[17]Aku rasanya sudah kebal dengan semua keadaan ruh yang kutarik dalam keadaan apapun. Pembantu-pembantuku sejumlah mahluk berruh yang ada di semesta ini. Jadi, setiap saat sebenarnya aku mengintip semua makhluk, mengincar semua makhluk. Begitu sinyal terakhir diisyaratkan Allah SWT maka akupun akan beraksi memadamkan semua kepongahan dan harapan manusia.

Ketahuilah, sesungguhnya ruh dalam keadaan telanjang dalam tubuh seorang hamba, ia akan diambil apabila dikehendaki dan dilepaskan apabila dikehendaki oleh-Nya. Maka Bersiaplah untuk mati wahai jiwa dan berusahalah untuk selamat, orang bijak yang siap meyakini bahwa tak ada keabadian bagi kehidupan dan tak ada tempat pelarian dari kematian.

Engkau hanya peminjam apa yang mesti dikembalikan. Kita bukanlah pemilik kehidupan ini, juga bukan pemilik tempat hidup ini. Kita tak berharta, tak berkeluarga, tidak juga anak-anak kita miliki.

Semuanya orang-orang telanjang. Jiwa kita menuju masa yang dekat, Yang Meminjamkan akan mengambil yang dipinjamkan.

Sebenarnya aku juga ditugaskan untuk mematikan malaikat, setan, iblis, pohon, binatang, dan makhluk bernyawa lainnya. Maka ia yang bernyawa, pastilah akan gemetar melihat kedatanganku.

Sebenarnya, ada banyak cara aku menarik ruh dari tubuh atau jasad mahluk bernyawa. Hal itu sebenarnya tergantung dari segala hal yang membentuk kamu, amal-amal kamu, dan kelakukan kamu. Mau tau bagaimana aku menarik ruh dari tubuh manusia? Aku menariknya langsung dari jasad yang hidup melalui ubun-ubun kepala.

Kamu seringkan menyedot minuman dari dalam botol? Persis! Seperti itulah aku menarik ruh manusia dari tubuhnya. Saat itu kulakukan, seluruh sel-sel genetis tubuhmu mulai dari ujung kaki, sedikit demi sedikit akan mati. Maka, jemari kakilah yang akan mengalami kematian pertama kali, baru kemudian bergerak ke telapak kaki, tungkai, kemudian ke betis, lalu paha dan seterusnya. Pada keadaan ruh kutarik, ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku. Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh pelan-pelan akan kesakitan amat sangat dan kemudian mati rasa, bertanda ruh sudah melalui bagian itu. Maka, berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.

Bagaimana rasanya. Susah kugambarkan, karena aku cuma melihat saja, kan aku yang mencabut nyawa. Aku cuma melihat saja bagaimana manusia yang kucabut nyawanya berkelojotan dengan berbagai ekspresi rasa sakit yang dia rasakan saat itu. Jadi aku sendiri ndak tahu bagaimana rasanya ketika ruh kutarik dari jasad manusia.

Tapi, baiklah, dari pengalamanku mungkin gambarannya bisa kusimpulkan demikian : Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu, yang menempel disetiap atom tubuhmu, sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf, otot, pembuluh darah, persendian, rambut, kulit kepala, kulit yang membungkus tubuhmu, dan semua bagian tubuhmu kutarik-tarik, kubetot-betot dengan keras. Bayangkan saja jika ruhmu enggan meninggalkan dunia, maka semakin enggan, semakin sakitlah rasanya. Kalau ndak percaya, coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras. Sakit kan!

Kamu pernah kan mengalami luka disayat. Perih! Begitulah teriakan sebagian dari mereka yang kucabut ruhnya. Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa. Kalau sayatan luka kan cuma terjadi di sekitar luka saja, itupun sakitnya sudah luar biasa dan terasa di bagian tubuh lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel tubuh terasa disayat-sayat. Jangan heran kalau manusia akan berkeringat, menjerit, melolong-lolong, meraung-raung, dan menggeliat-geliat berkelojotan ketika ruh ditarik keluar dari kepompong tubuhnya.

Manusia akan terkuras tenaganya, akibat kelelahannya, ia bahkan tak lagi dapat bernafas, ia akan merasakan seperti tertimpa beban berat kesombongan, kedengkian, ketamakan, kemaksiatan, dan kejahilan lainnya. Namun demikian, apabila tubuh kuat, suara yang dikeluarkan ketika bernafas akan berbeda-beda. Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah. Sesuai dengan amal yang pernah dilakukan tubuhnya.

Rasa sakit yang tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu setelah berhubungan dengan tubuh. Keduanya kemudian bercampur dan saling merasuki satu sama lain, sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu. Ruh dan jasad menjadi melekat. Keduanya tak akan terpisahkan, kecuali dengan suatu upaya penarikan yang kuat, sehingga manusia merasakannya sebagai suatu kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.
Ketahuilah, kesukaanmu akan syahwat, nafsu dan materi serta keduniawian cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu. Kenapa demikian, ini karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi, sehingga ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat.

Dikatakan bahwa tubuhmu menyimpan energi dalam yang berlebihan, sehingga seringkali energi berlebihan ini melonjak-lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu. Kromosom-kromosommu akan terganggu, kode-kodenya yang asli akan jungkir balik, bahkan akibat langsungnya akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah seperti kanker, jantung, atau pikun. Itulah yang akan mencelakakanmu, akan menyiksamu.

Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah engkau rasakan ketika aku menarik-nariknya karena keengganan ruhmu meninggalkan jasadmu. Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun, suara akan berangsur hilang, dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.

Sakitnya penarikan ruh memang menggentarkan siapapun juga. Jangankan manusia biasa, para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang. Karena alasan itulah, seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul, Muhammad SAW, memohon kepada Allah SWT agar membebaskan beliau dari penderitaan dan kepedihan kematian.

Beliaupun sudah mengingatkan, "Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan, yakni kematian." Banyak orang arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang. Kata mereka,

Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan
Dan bersiaplah untuk kematian yang akan datang
Wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian
Ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan
Bertobatlah kepada Allah dari kelalaian dan segala yang lezat
Sesungguhnya kematian sangatlah dekat
Ingatlah musibah hari-hari dan saat-saat yang terlewat
Jangan merasa tenang dengan dunia dan perhiasannya yang melekat [17].

Dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh dalam firman dengan gambaran berikut "Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) (QS 75:29)", yang banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakratul maut dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah.

Allah menyebut keadaan tersebut dengan "sakrah", karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun akan membuat semaput pemiliknya, sehingga biasanya kesadarannya hilang. Allah berfirman, "Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS 50:19)"[17].
Bagaimana gambaran yang jelas mengenai rasa sakit dan penderitaan kematian memang bermacam-macam. Sehingga terdapat gambaran yang tidak persis sama, namun intinya serupa yaitu suatu rasa sakit yang tak terkirakan. Kamu mungkin dapat menyimak dari beberapa kisah tentang kematian berikut ini.

Hasan bin Ali pernah mendengar sabda Nabimu yang mulia yang mengatakan padanya bahwa "pedihnya kematian setara dengan luka-luka tiga ratus tusukan pedang". Ali Bin Abu Thalib kwj. bahkan menyebutkan setara dengan seribu pukulan pedang. Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana sakitnya. Jangankan dipukul pedang, lha luka tergores silet saja bisa membuat manusia mengaduh-aduh nggak karuan, apalagi dipukul-pukul seribu kali dengan pedang.

Gambaran lain menyebutkan, kalau pedihnya kematian itu lebih tajam dari gigi gergaji, lebih tajam dari mata gunting, lebih menyakitkan daripada dipanggang diatas kawah panas gunung berapi. Makanya ada pepatah yang mengatakan bahwa "maut lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, gergaji, atau sayatan gunting".

Para nabi dan rasulpun mempunyai gambaran yang menakutkan betapa pedihnya ketika aku datang. Dikisahkan ketika Nabi Musa meninggal dunia dan ditanya Allah bagaimana rasa sakitnya kematian yang ia rasakan, ia menjawab bahwa kejadian itu seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tapi nyawanya tidak juga lepas dan ia tidak menemukan cara untuk melepaskan diri. Musa juga menggambarkan peristiwa itu seperti kambing hidup yang sedang dikuliti.

Bukankah Aisyah r.a pernah juga mengatakan bahwa ketika Nabi SAW akan meninggalkan dunia fana ini, ada secangkir air penuh tergeletak didekat beliau. Beliau mencelupkan tangannya kedalam cangkir berulang-ulang dan membasahi dan membasuh wajahnya. Beliau berdoa kepada Allah supaya dibebaskan dari sakratul maut.

Demikian juga, khalifah kedua Umar bin Khatab r.a. meminta Ka'ab menggambarkan keadaan ketika seseorang dalam sakratul maut. Dia menjawab "Pencabutan nyawa dari badan dapat dibandingkan dengan pencabutan duri-duri dari tubuh manusia sedemikian rupa sehingga seluruh tubuh merasakan cengkeraman rasa sakit yang amat sangat."

Itulah sekelumit gambaran bagaimana kami melakukan tugas pencabutan ruh dari tubuh manusia dan rasa sakit yang dirasakannya. Perlu kamu ketahui juga, kalau pengaruh pencabutan ruh, atau kematian itu tidak cuma sekedar ketika ruh dicabut dari jasadmu. Namun pengaruhnya akan terus-menerus dirasakan sampai keliang lahat.

Akan kuceritakan sebuah riwayat lama yang menginformasikan hal ini. Pernah sekelompok orang datang kekuburan dan berdoa kepada Allah untuk menghidupkan seseorang yang telah meninggal. Maksud mereka adalah ingin mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami si mati pada saat aku beraksi. Atas idzin Allah, si mati yang kebetulan seorang yang bertakwa pun hidup kembali. Ia berkata, "Aku meninggal 50 tahun yang lalu, namun hingga kini rasa pedihnya belum hilang dari hatiku!". Bayangkan! Rasa sakit yang dialami ruh si mati yang nampaknya tidak hilang begitu saja, namun terasakan hingga puluhan tahun.

Aura kedatanganku yang menguat biasanya kalian sebut sebagai Sakratul Maut. Dalam keadaan sakratul maut, setiap saat sekarat demi sekarat akan manusia lalui, penderitaan demi penderitaan akan dirasakan, sakit demi sakit akan mengingatkan manusia pada semua perbuatannya, dan hal itu terus akan terjadi sampai ruhnya mencapai kerongkongannya.

Pada titik kritis ini, berhentilah perhatian manusia kepada dunia dan semua yang ada di dalamnya. Berhentilah semua harapan-harapan dan angan-angan mereka. Saat itu, simetri kegaiban pun terkuak dihadapannya, pemandangan alam akhirat pun muncul begitu saja. Pintu tobatpun ditutup dan manusia pun diliputi oleh kesedihan dan penyesalan. Ia mungkin akan teringat sabda Rasulullah SAW "Tobat seorang manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada kondisi sakratul maut (yaitu sampainya nyawa di kerongkongan)". Maka semakin menyesallah ia. Tapi semua itu terlambat dan ketika aku menampakkan diriku semakin nyata, maka saat itu jangan pernah bertanya tentang pahit getirnya kematian ketika sakratul maut tiba. Pendek kata karena kengerian tentang kedatanganku maka Rasulullah SAW pernah bersabda tentang aku, dengan sabdanya beliau sebenarnya hanya ingin mengingatkan manusia, katanya:"Kalau kalian melihat ajal dan perjalanannya, pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.

Tak seorangpun penghuni rumah kecuali ada Malaikat Maut yang memperhatikan mereka dua kali sehari. Orang yang didapati ajalnya telah habis, maka dia cabut nyawanya. Bila keluarganya menangis sedih, dia bertanya 'Mengapa kalian menangis?' Dan mengapa kalian bersedih? Demi Allah, Aku tidak mengurangi umur kalian, tidak pula mengekang rezeki kalian, dan akupun tidak berdosa. Sesungguhnya aku benar-benar akan kembali kepada kalian (yang masih hidup saat itu), kemudian kembali, dan kemudian kembali, sehingga aku tidak menyisakan seorangpun dari kalian.'"

Demikianlah, aku akan datang tanpa diundang dan pergi tanpa diantar. Ia yang saatnya sudah ditentukan, maka ia akan menghadapi aku sesuai dengan keadaannya, rasa sakitnya, dan kengeriannya.

Banyak ungkapan yang menggambarkan bagaimana rasa sakit ketika aku mencabut nyawa manusia. Namun, percayalah itu semua tidaklah lengkap benar karena keluarbiasaan sakratul maut tidak dapat diketahui dengan pasti, kecuali oleh orang yang merasakannya sendiri. Tahukah kamu, bahwa pencabutan nyawa termasuk kondisi spiritual yang cuma bisa dirasakan oleh orang yang kucabut nyawanya. Jadi, orang lain mungkin menggambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda. Tapi, begitulah kematian, ia hanya bisa dirasakan oleh yang meregang nyawanya sendirian. Karena kematian termasuk keadaan ruhani, maka menjadi jelas bahwa keadaan ruhanimu sangat mempengaruhi bagaimana rasanya mati. Orang lain cuma bisa mengira-ngira saja dengan menganalogi-kannya dengan rasa sakit yang benar-benar pernah dialaminya, atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang meregang nyawa. Lewat analogi pula akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang tidak bernyawa, tidak bisa lagi merasakan rasa sakit.

Akan kuperjelas lagi bagaimana rasa sakitnya kematian. Gambarkan saja satu bagian dirimu terbakar api, maka rasa sakit yang dialami akan menjalar keseluruh tubuh dan jiwa. Dan sesuai dengan kadar yang menjalar ke jiwa, maka sebesar itu pula kadar yang dialami oleh seseorang. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan selama sakratul maut menghunjam jiwa dan menyebar keseluruh tubuh. Sehingga bagi yang sedang sekarat, maka ia merasakan dirinya ditarik-tarik, dibetot, dan dicerabut dari setiap sel, urat nadi, syaraf, persendian, dari setiap akar rambut yang tumbuh dibadannya dan kulit kepala, hingga kaki. Jadi, jangan Anda tanyakan lagi bagaimana derita dan rasa sakit yang tengah dialami oleh mereka yang dijemput olehku!


Maka, perhatikanlah sekiranya kamu mengalami suatu peristiwa yang berhubungan dengan kematian, apakah itu kematian salah satu keluargamu, tetanggamu, atau teman-temanmu. Perhatikan bagaimanakah keadaannya! Gunakan pengalamanmu dalam mengiringi kematian sebagai pelajaran dan peringatan bagimu, bahwa tak ada yang abadi, semua pasti akan mati!
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html