Senin, 19 Maret 2018

Pakai Sepatu Dari Kiri

0

Ia Memakai Sepatunya Dari Kiri (Tentang Kebiasaan)
-----

"Kok pake sepatunya mulai dari kiri dulu?" , Tanyaku kepada salah seorang teman kantor selesainya kami sholat.

"Oh iya, lupa...hehe...", Jawabnya.

"Udah kebiasaan nih...", Lanjutnya  sambil melepas kembali sepatu kirinya yang sudah terpakai kemudian ia mengulanginya lagi dari kanan.

Saya pun tersenyum melihatnya melakukan hal tersebut.

Itu adalah kali kedua saya menasehati dia perihal kebiasaannya memakai sepatu mulai dari kiri. Sepertinya perkara ini sepele, hanya mengubah pola memakai sepatu, seharusnya gampang saja. Akan tetapi tak sadar ternyata beliau kembali melakukannya.

Kami pun berjalan kembali ke kantor sambil berdiskusi ringan mengenai kebiasaan. Ia juga bercerita tentang kebiasaannya yang susah bangun Shubuh meskipun alarm telah disetel pada waktu tersebut.

Yup, kebiasaan ternyata bukanlah suatu hal yang sepele.

Pernahkah anda melihat seseorang yang mungkin usianya tak lagi muda, tak terhitung pula jumlah uban di kepalanya, namun seringkali ia sholat di akhir-akhir waktu?

Para pemuda yang terbiasa datang telat ke mesjid tertinggal satu, dua rakaat ketika sholat?

Wanita yang telah lewat belasan bahkan puluhan tahun dari usia balighnya namun tak kunjung berhijab?

Atau sesepuh yang terbiasa bangun shubuh untuk sholat di mesjid?

Mengubah kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi dalam hal yang baik. Cobalah tanyakan kepada mereka yang telah berhijrah.

Jangan kira mereka itu bisa langsung tiba-tiba rajin ke mesjid,  belajar agama, atau perihal ketaatan lainnya. Mereka sempat mengalami beratnya mengubah kebiasaan mereka di awal-awal mereka hijrah. Melawan rasa malas, hawa nafsu ataupun hobi kemaksiatan yang telah mendarah daging, belum lagi ditambah dengan teman-teman yang buruk serta bisikan setan.

Akan tetapi mereka bersabar menjalani beratnya perjuangan di awal ini. Melewati ujian pertama dari Tuhan mereka, apakah mereka betul ingin berubah karena-Nya atau sekedar ucapan manis di bibir, ikut-ikutan semata?

Mereka terus bersabar dan berjuang sehingga Allah pun mengaruniakan mereka hidayah berupa mudahnya, ringannya dalam melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Mereka terus demikian hingga ajal datang menjemput demi tercapainya cita-cita yang pernah disabdakan oleh Nabi,

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

"Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika ia meninggal." (HR Muslim no 2878)

Tidakkah kita ingin mati di atas ketaatan?

Salafi Bukan Aliran Tertentu Tetapi Penisbatan Kepada Salaf

0

Salafi Bukan Aliran Tertentu Tetapi Penisbatan Kepada Salaf

Salafi bukanlah suatu aliran atau kelompok tertentu, akan tetapi salafi adalah penisbatan kepada para salaf yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, dan generasi terbaik setelahnya yaitu tabi’in dan tabi'ut tabi’in.
.
Bagi yang sudah belajar bahasa Arab tentu mereka paham, bahwa kata “salaf” (سلف) jika ditambahkan huruf “yaa' nisbah” maka artinya adalah penisbatan kepada salaf. Sebagaimana kata yang sudah sering kita dengar “Islami” adalah penisbatan kepada Islam. Jadilah “pakaian Islami, akhlak Islami dan lain-lain”.
.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa beliau adalah “salaf”. Beliau berkata kepada putri beliau yaitu Fathimah:

“Bertakwalah kamu dan bersabarlah karena sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagi kamu adalah aku”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Begitu juga Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya yang hendak akan meninggal,

“Susul-lah para salaf (pendahulu) kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un.” (HR ath Thabrani)

Demikian juga dengan penyebutan “dakwah salafiyah”. Bagi yang sudah belajar bahasa Arab tentu paham. Artinya adalah dakwah menyeru kepada pemahaman (metodologi) para salaf dalam beragama. Para salaf tersebut adalah generasi terbaik dalam Islam yang mana pemahaman agama mereka yang paling baik dan tentu harus kita ikuti. Sebagaimana sabda Nab iShallallahu ‘alaihi wa sallam

ْ“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian generasisetelahnya (tabi’in), kemudian generasi setelahnya (tabi’ut tabi’in).(HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)

Berikut kami nukil perkataan ulama-ulama sejak zaman dahulu yang sudah dikenal oleh kita:

1.Imam Asy-Syafi’i

“Dan aku mengakui hak para SALAF yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menerima keutamaan-keutamaan mereka, dan aku menahan diri dari perkara yang mereka percekcokan baik yang kecil atau besar.” (Al-Amru bi-ittiba’, As-Suyuthiy)

Baca selengkapnya :
https://muslim.or.id/36561-salafi-bukan-aliran-tertentu.html

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Selfi? Masih jaman?

0

Kecantikkan wanita bukan hanya dilihat dari fisik semata, juga bukan dilihat dari ketenaran yang sekedar dimata.

Bukan pula dilihat dari seberapa banyak likers yang dia dapat dalam postingan foto pribadinya.

Meski berhijab, apalagi yang syari.

Cukuplah menjadi seseorang yang ada, namun jarang terlihat, terlihatpun tidak berlebihan.

Ukhty, dirimu bukanlah konsumsi publik, apalagi jajanan harian bagi penikmat media sosial dengan foto kekinian yang banyak digemari.

Tak perduli seperti apapun dirimu, juga penampilanmu. Sebab Islam memandang wanita sama, dan yang membedakan hanya dia mau tunduk syariat atau tidak. Begitulah hukumnya.

Islam memandang wanita sebagai sosok yang bertutur lembut, berakhlak anggun juga yang pandai menjaga dirinya.

Selfie berlebih bukanlah cerminan muslimah, apalagi mengatasnamakan dakwah.

Justru lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.

Padahal,

Masih tersisih sebagian dari kita yang kian menutup diri, bahkan untuk sekedar pamer gambar diri dari jarak jauh diapun tak memiliki nyali, sebab rasa takut terlena yang sewaktu-waktu menghampiri.

Teruntuk dirimu ukhty, ini bukan diskriminasi publik. Tapi ini hanyalah nasihat usang yang sekian kali terdengar, bukan untuk menyelisihi apalagi saling menyalahi.

Nasihat ini hanya untuk pengingat hati, bahwa dirimu tidak biasa. Bahwa memang sebenarnya Muslimah adalah sosok permata yang harusnya dijaga jangan sampai jatuh harga.

Untuk itu,

Ukhty, Yuk puasa selfie! 😊 .

Karena mata bila tidak melihat maka hati pun tidak akan bernafsu.

Tapi akhwat jaman now dalam beberapa fenomena ini, bahkan viral banget kayaknya, "ukhti selfi bercadar"

Malu ga sih kita dibilang kayak gitu?

Hakikat nya memang menutupi, tapi ingin di lihat. "ini loh gue, gue udah hijrah, gue udah baik, gue udah bukan kayak dulu lagi, gue udah bercadar"

Lalu apa fungsinya dari jilbab dan cadar kita?

Kita memang terjaga di dunia nyata karena pakaian ketakwaan kita, tapi kita rela menjual diri ketika di dunia maya, membiarkan para lelaki ajnabi melihat pose kita, mata cantik kita, mulus nya tangan kita, lebar nya gamis yang kita kenakan.

Sahabat lillah, lelaki punya fikiran yang tidak bisa di jangkau oleh kaum wanita. Wanita mikir baru sampe depan pintu, lelaki sudah sampe mall. Sekalipun diri kita tertutup.

Bahkan perlu kalian tau, sekarang sudah banyak kejahatan kelamin untuk para akhwat bercadar. Mereka di jadikan bahan konsumsi mereka setiap malam. Jadi bahan konsumsi pribadi. Dosa, dosa, dosa.

Kita berusaha menjaga diri untuk menjauhkan dosa, tapi hanya karena satu foto yang terpampang, dosa kita terus mengalir walau kita tidur, makan, dan aktivitas lainnya. Duhai sayang nya...

Biarlah yang lain sibuk mengoleksi foto dirinya di media sosial, yang penting engkau jangan.

Biarlah yang lain sibuk mengeksploutas kecantikan wajah dan aurat nya, yang penting engkau jangan.

Biarlah yang lain sibuk memanen ladang dosa karena kedzaliman sendiri, yang penting engkau jangan.

Bantu ikhwan menundukan pandangan.

Tidak mengapa menjadi berbeda, asalkan dalam kebaikan. Daripada beramai ramai tetapi dalam keburukan.

Jadilah engkau bidadari yang tersembunyi namun mengagumkan, yang mungkin tidak terkenal di bumi, tapi terkenal diantara penduduk langit

#muslimahtanpaselfie
#muslimah #indonesian #mutiarahati #wanitasalihah #sahabathati #noselfie #stopnarsis #muslimahpatuh

Belajar Ilmu Filsafat dan Ilmu Kalam?

0

BOLEHKAH MEMPELAJARI ILMU FILSAFAT & ILMU KALAM?

Assalamu’alaikum, apa yang dimaksud dengan ilmu kalam atau ilmu filsafat? Bagaimana hukum mempelajarinya? Jazakumullohu khairan 

Jawab: Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Ilmu kalam adalah ilmu yang membahas perkara tauhid dengan metodologi filsafat. Mempelajari ilmu kalam hukumnya harom karena membimbing orang kepada superioritas akal dalam beragama. Al-Qur’an was Sunnah diterjemahkan menurut akal dalam memahami keberadaan Allah, perbuatan-Nya, nama-nama-Nya serta sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna. Inilah hakikat mendahulukan akal pikiran daripada dalil. Allah berfirman:

 يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم 

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rosul-Nya, bertaqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurot: 1) 

Terkait hal spesifikasi, ilmu kalam dan ilmu filsafat sangat tidak mungkin diintegrasikan dengan ilmu syariat. Apalagi sampai dijadikan acuan dalam beragama lantaran metodologinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sebab itu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam  telah menggariskan satu prinsip dalam metodologi berpikir seperti yang disebutkan oleh beliau dalam sabdanya:

 وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم

“Apa yang aku perintahkan kepada kalian tentang suatu perkara, maka tunaikanlah semampu kalian.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Beliau shollallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

 من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد 

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak bersumber dari ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim) 

Maka segala sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam dalam perkara agama ini hukumnya tertolak, sesat, batil. Disebutkan dalam sebuah hadits:

من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

“Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan akal pikirannya semata meski hasilnya mencocoki kebenaran, maka dia telah salah (berdosa).” (Riwayat Ath-Thobari dalam "Jami'ul Bayan" 1/27)

Dikatakan berdosa karena metodologinya yang salah, sekalipun hasilnya ternyata mencocoki kebenaran. Kendati demikian, Islam tidak pula mengkarantina akal. Islam memposisikan akal pada tempatnya sehingga dapat berfungsi secara proporsional. 

Para Ulama Salaf maupun para Ulama generasi setelahnya senantiasa mewanti-wanti kaum Muslimin dari mempelajari ilmu kalam karena bahayanya yang besar, yaitu merusak akal dan menghancurkan aqidah seseorang.

Al-Imam Asy-Syafii berkata, “Sungguh andaikata salah seorang ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain dosa syirik, maka itu lebih baik baginya daripada dia mempelajari ilmu kalam.” (Riwayat Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam "Hilyatul Auliya’" 9/111) 

Beliau juga berkata, "Andaisaja manusia menyadari bahaya yang ada pada ilmu kalam, niscaya dia akan lari darinya seperti larinya dia dari ancaman singa.” 

Dan para Ulama telah berijma' (sepakat) bahwa ahli ilmu kalam tidak tergolong Ulama yang menjadi rujukan. Al-Hafidzh Ibnu Abdil Barr Al-Maliki berkata, "Para Ulama ahli fiqh dan ahli hadits dari seluruh negeri telah berijma' bahwa ahli ilmu kalam adalah ahli bid'ah yang menyimpang. Tidaklah mereka semua dianggap masuk deretan Ulama yang menjadi rujukan. Hanyalah para Ulama itu dari kalangan ahli fiqh dan ahli hadits." (Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhlih 2/942)

Demikian nasehat para Ulama agar menjauhi ilmu filsafat dan ilmu kalam, karena melalui pintu keduanya muncul bid'ah-bid'ah dalam beraqidah yang menyelisihi jalannya Salafussholih seperti yang dianut oleh kalangan Syiah, Thoriqot Shufiyyah, Mu'tazilah, Asy'ariyyah, Maturidiyyah dan kelompok-kelompok yang mengikuti jalan mereka, nas'alullaahas salaamah wal 'aafiyah.
________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

https://t.me/manhajulhaq

Pembatal Keislaman

0

Pembatal Keislaman (Via Lisan)

------

Di antara pembatal keislaman yang terucap melalui lisan adalah mencela, mengolok-olok Allah dan RasulNya.

Di antara contohnya adalah perkataan,

"Allah zholim", "Allah bakhil", "Allah miskin", "Allah tidak mengetahui sebagian perkara", "Allah tidak mampu dalam beberapa hal",

semua perkataan ini dan yang semisal merupakan celaan dan mengeluarkan seseorang dari Islam.

Di antara bentuk perkataan lainnya adalah ucapan,

"Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sholat kepada kami", "Zakat tidak wajib", "Puasa di bulan Ramadhan tidak wajib", "Haji juga tidak wajib meskipun sudah mampu",

Barangsiapa yang mengucapkan perkataan-perkataan tersebut maka ia telah kafir, dan ia diminta untuk bertaubat.

Disarikan dari :

القوادح_في_العقيدة_ووسائل_السلام_منها
للشيخ ابن باز رحمه الله تعالى

Pembatal Keislaman (Via Lisan Bag. 2)

------

Berdoa kepada penghuni kubur (baik itu wali-wali Allah, orang-orang sholeh maupun Para Nabi), meminta pertolongan kepada mereka, mengucapkan nadzar untuk mereka termasuk pembatal keislaman melalui ucapan.

Disarikan dari

القوادح_في_العقيدة_ووسائل_السلام_منها
للشيخ ابن باز رحمه الله تعالى

Pembatal Keislaman (Dengan Perbuatan)

------

Di antara pembatal keislaman seseorang yang dilakukan dengan perbuatan adalah melecehkan mushaf Al Qur'an, menduduki Al Qur'an dengan maksud melecehkan, mengusap benda najis ke Al Qur'an dengan sengaja, menginjak Al Qur'an dengan tujuan melecehkan, kesemua perbuatan ini mengeluarkan seseorang dari Islam.

Di antara pembatal keislaman lainnya, thawaf di kuburan dengan tujuan mendekatkan dirinya kepada penghuni kuburan, sholat kepada penghuni kuburan atau Jin, menyembelih untuk selain Allah seperti untuk penghuni kuburan, Jin, bintang-bintang, dimana ia bermaksud mendekatkan dirinya, beribadah kepada mereka, baik dengan unta, ayam, kambing, sapi. Semua ini juga termasuk yang dapat membatalkan keislaman seseorang.

Disarikan dari

القوادح_في_العقيدة_ووسائل_السلام_منها
للشيخ ابن باز رحمه الله تعالى

Pembatal Keislaman (Sekedar Berkeyakinan)

-----

Di antara bentuk pembatal keislaman lainnya adalah seseorang yang berkeyakinan meski hanya di dalam hatinya, ia tidak mengucapkannya maupun mengamalkannya adalah

Jika seseorang memiliki keyakinan di dalam hatinya bahwa,

- Allah miskin, tidak berkuasa, mempunyai anak
- tidak ada hari kebangkitan
- segala sesuatu mengenai hari kebangkitan bukanlah hakikat sebenarnya
- tidak ada hari akhir
- tidak ada Surga dan Neraka
- Nabi Muhammad bukan Nabi terakhir
- Nabi Muhammad bukanlah orang yang jujur dan terpercaya
- Musailamah (atau Mirza Ghulam Ahmad) adalah seorang Nabi
- Nabi Nuh, Musa, Isa atau Nabi-Nabi lainnya adalah pendusta, atau salah satu saja di antara mereka
- tidak mengapa berdoa/beribadah kepada selain Allah seperti kepada para Nabi, atau kepada manusia selain mereka, kepada malaikat, kepada Jin, kepada matahari, kepada bintang-bintang, kepada pohon

Maka kesemua ini membatalkan keislaman seseorang, meskipun Ia hanya sekedar keyakinan di dalam hati, tidak diucapkan ataupun dilakukan.

Apabila keyakinan tersebut ia ucapkan, maka ia telah melakukan pembatal keislaman secara keyakinan dan juga lisan. Apabila ia lakukan (seperti berdoa kepada selain Allah), maka ia telah melakukan pembatal keislaman secara keyakinan, perbuatan dan juga lisan.

Disarikan dari

القوادح_في_العقيدة_ووسائل_السلام_منها
للشيخ ابن باز رحمه الله تعالى

Boris Tenesia

Kuingin Berhenti Bermaksiat, Bagaimana Caranya?

0

Kuingin Berhenti Bermaksiat, Tapi Gimana Caranya...?

-----

Soal :
Hal-hal apa sajakah yang dapat membantu seseorang untuk meninggalkan kemaksiatan?

Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah menjawab,

"Yang pertama, perkara terpenting yang dapat membantu seseorang untuk meninggalkan kemaksiatan adalah rasa takut kepada Allah, di antaranya dengan senantiasa mengulang-ulang dalam dirinya firman Allah,

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.
[Surat Al-Insyiqaq : 6]

Ia beriman dan meyakini bahwasanya ia kelak akan menemui Tuhannya dengan setiap perbuatan yang ia lakukan.

Yang kedua, memikirkan akibat dari maksiat. Akibat dari kemaksiatan pasti jelek. Kemaksiatan akan menghinakan hamba, setan akan senantiasa bersamanya hingga mengantarkannya ke arah kesyirikan.

Oleh karena itulah sebagian ulama berkata, kemaksiatan merupakan pengantar kekafiran, seseorang yang melakukan kemaksiatan, ia akan meniti langkah demi langkah yang akan mengantarkannya ke puncak kemaksiatan (yakni kekafiran).

Hal ini sebagaimana Firman-Nya,

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ  كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Surat Al-Muthaffifin 13 - 14]

Dosa-dosa apabila telah menghiasi hati, kelak ia akan menganggap ayat-ayat Al Qur'an yang mulia sebagai dongeng semata.
Jikasaja seseorang mau merenungkan perihal ini, niscaya ini akan membantunya untuk meninggalkan kemaksiatan.

Yang ketiga, kemaksiatan akan membuat diri seseorang semakin jauh dari Allah, apabila ia telah jauh dari Allah, maka manusia pun juga akan menjauh darinya. Di hati seseorang yang jauh dari Allah akan muncul kerisauan, seakan-akan di depan dirinya ada lembaran yang berisi aib-aib dan maksiat-maksiat yang ia lakukan sehingga orang-orang pun membacanya. Engkau juga akan dapatkan kehinaan pada dirinya.

Yang keempat, apabila kemaksiatan itu disebabkan pergaulannya dengan para pelaku maksiat, maka Ia harus menjauh dari mereka, karena sesungguhnya Nabi telah mengumpamakan teman yang buruk seperti pandai besi, entah bajumu kelak yang terbakar, atau engkau akan mendapatkan aroma asap yang buruk darinya."

Disarikan dari transkrip rekaman

http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_103_04.mp3

Jiwa yang Tertipu

0

Jiwa yang Tertipu

------

Orang yang senantiasa bermaksiat, ia tidak menyesali , tidak juga berusaha berhenti dari kemaksiatan tersebut, namun ia berharap untuk tidak diadzab, maka sesungguhnya ia telah tertipu.

Sungguh indah perkataan,

"Di antara tanda kebahagiaan adalah engkau taat kepada Allah namun engkau takut amal ketaatanmu itu tidak diterima olehNya.

Dan di antara tanda kesengsaraan adalah engkau bermaksiat namun engkau berharap bahwa engkau akan selamat kelak. "

(Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

Dosa Tidak Akan Dihapuskan Dari Buku Catatan Amal Meskipun Ia Telah Bertaubat

-----

Hasan Al Bashri berkata :
“Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa, kemudian ia bertaubat, meminta ampun kepada Allah, Allah pun mengampuni dosanya. Akan tetapi dosa tersebut tidak dihapus dari buku catatan amalnya hingga ia berdiri di hadapan Allah dan ditanya tentangnya.”

Al Hasan kemudian pun menangis dengan keras,  ia berkata : “ sudah sepantasnya kita menangis meskipun hanya karena rasa malu pada keadaan itu”.

Bilal bin Saad berkata :
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa, akan tetapi Allah tidak menghapuskannya dari buku catatan amal hingga seorang hamba berdiri (untuk membacanya) di hadapan Allah, meskipun ia telah bertaubat”.
(Jamiul Ulum wal hikam, Ibnu Rajab)

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html